Shadow in my mind ...

Brukk...!!! aku jatuh. Tiba-tiba aku terjatuh pada jalan yang ku lalui dengan kehati-hatian 100%. Sakit ternyata rasanya...Saking sakitnya, hampir dan ingin rasanya meneteskan refleksi kejadian itu dalam bentuk butiran-butiran bening. Tentu saja saat duniaku dalam keadaan kosong tanpa pendatang.
Mataku melakukan penginderaan sebagaimana fungsi ia diciptakan. Meneliti setiap bagian tubuhku. Mencari bagian-bagian yang terasa sakit akibat jatuh yang kualami. Sedetik..dua detik...satu menit..mataku tidak menemukan sesuatu yang berbeda pada tubuhku. Tak ada memar..tak ada lecet apalagi cairan merah yang keluar dari kulit putih pucatku. Tapi pusat kegiatan tubuhku meneriakan "sakit" diseluruh bagian-bagiannya. Sakit yang membuatku ingin meneteskan air mata. Sakit yang memberikan penyesalan atas jalan yang kupilih untuk dilalui yang ternyata memberi rasa sakit. Tak ada luka...jadi bagian mana yang terasa sakit. Yang diteriakan oleh otak ku.
Sejenak aku duduk dalam diamku. Diam dalam duniaku. Berjalan-jalan di padang rumput anganku nan hijau serta diantara bunga-bunga imajinasiku. Angin yang berhembus menerpa lembut kulitku. Sejuk dan hangat hadir dalam komposisi yang sempurna. Kaki ku berhenti dan menjatuhkan badanku di bawah sebatang pohon besar. Melindungiku dari hangat surya namun tak menghalangiku memandang sejauh-jauhnya. Ku sandarkan kepalaku dengan tangan di kedua sisi tubuhku. Mataku pelan mulai terpejam dengan hati terus menerawang.
Aaaahhhhh....teriakan yang kulontarkan sendiri membuat mataku terbuka. Kusadari betapa nyaring suara yang kuciptakan. Refleks tanganku memegang kepalaku. Meraba ke seluruh bagiannya. Dan dalam sepuluh detik tanganku langsung berpindah kedadaku. Sesak. Aku menemukannya...aku menemukannya...pikirku dan lisanku berlomba mengutarakan kalimat serupa. Ya...aku telah menemukan bagian yang sakit akibat jatuh yang kualami. Aku menemukannya dalam duniaku. Aku menemukannya setelah sesuatu menghantamku saat aku ada dalam duniaku sendiri. Pukulan itu menyakitkan dan menyadarkanku akan rasa sakit sebelumnya. Ternyata pikiran dan hatiku lah yang sakit. Yang membuatku menjeritkan kata "aduh" dengan samar. Dan pukulan yang kuterima saat aku berada dalam duniaku mengembalikanku pada kesadaran dengan emosi yang meluap. Aku menderita sakit...sakit karena aku telah kehilangan sesuatu yang begitu ingin kucapai. Kehilangan yang begitu berarti dalam hidupku. Akhirnya emosiku merambat dimana aku membuat sebab-sebab yang muncul tanpa kuinginkan, diluar rencanaku lah yang menyebabkan aku mengalami hal ini. Mengalami jatuh. Kepalaku semakin sakit dan dadaku begitu sesak ingin menumpahkan segala kekesalan.
Mengapa "sesuatu" itu datang sehingga merusak semua agendaku dan menyebabkan aku terjatuh dalam kehilangan akan sesuatu yang seharusnya bisa ku dapat...?! Selama beberapa menit aku berada dalam kekalutan. Ku abaikan suara dari sudut hatiku yang memintaku untuk tenang dan berpikir. Hingga suara itu begitu keras menegurku dan memaksa memenuhi setiap sel-sel otakku. Aku tersadar bahwa beberapa bulan ini sebuah bayangan menutupi mataku. Bayangan yang membuatku terlupa akan siapa aku dan bagaimana aku dalam menjalani hidup sebelumnya. Bayangan yang membuatku lupa bagaimana aku menempatkan sisi dunia dalam kehidupanku sebelumnya. Bayangan yang menutupi mataku hingga bebera Aku terlupa...
Sekian lama aku bergelut dalam hidup dengan sebuah bayangan yang menutupi mataku. Selama beberapa bulan ini betapa kuat aku berusaha untuk mengejar materi semata. Materi yang harus ku capai demi sebuah tujuan. Dan hal itu membuatku lupa akan diriku. Menjadikanku manusia yang dipenuhi keinginan dunia semata. Dan hari ini hanya dengan sedikit kesalahan kecil yang begitu mudah terjadi dan yang dahulunya merupakan hal biasa kualami ternyata sanggup membuatku begitu sakit. Padahal aku yang sebelumnya apabila mengalami hal ini tak pernah merasa sesakit ini dan bagiku hal itu adalah biasa karena memang seharusnya akan terjadi.
Seketika itu kusadari betapa aku tenggelam dan menenggelamkan diri dalam urusan dunia. Seluruh kepalaku berisi dengan dunia. Hatiku berisi dengan dunia. Tidak ada lagi keseimbangan pada diriku.
Segera kuhapus bayangan yang menutupi mataku dengan siraman air yang menyejukan wajah dan kulitku. Tak hilang dalam sekejap memang. Namun setidaknya aku menyadari bahwa aku harus kembali pada aku yang semula. Aku yang menganggap bahwa materi dunia bukanlah segalanya. Aku yang menganggap bahwa aku harus berusaha dan menyerahkan segala hasilnya pada pemilik keputusan akhir. Aku yang dapat menerima dengan lapang bahwa kehilangan sesuatu adalah hal lumrah dalam hidupku. Karena aku bukan pemilik dunia yang sebenarnya.
Tak ada yang salah pada pengunjung-pengunjung yang hadir pada dunia nyataku. Yang salah adalah bayangan yang tanpa sengaja kuciptakan hingga membuatku lupa akan aku yang sebenarnya...Beruntung aku masih memiliki suara kecil dalam hatiku yang meski kecil namun sanggup membuatku kembali pada nyata yang sebenar-benar nyata.

Read More......

Tanpa Judul

Langit mengeluarkan tangisnya. Menumpahkan beban yang mengiringi perputarannya. Namun tangisnya bisa menjadi kebahagiaan bagi penghuni bumi dan juga kesedihan bagi mereka.
Aku pun ingin seperti langit saat ini. Menumpahkan sesak di dada. Mungkin ia akan sederas hujan saat ini. Pun seandainya hujan ini disertai kilat dan guntur. Akupun akan turut mengeluarkan teriakan kemarahan dan tatapan sebagaimana kilat menyambar saat hujan. Sesak ku melelahkan. Tapi langit melaksanakan tugasnya. Dan bumi pun melaksanakan tugasnya. Langit tidak menanggung tugas bumi sebagai tempat berpijak manusia. Sehingga tangisnya bukanlah tangis karena menyesali tugasnya.
Betapa berat menanggung tugas orang lain yang tanpa pemberitahuan. Betapa berat harus bertanggung jawab atas tugas orang lain tanpa pemberitahuan. Disaat pertanggung jawaban itu harus diberikan, sementara mereka si empunya tugas berada di depan mata dan tak mau tau apa-apa. Mengapa tugas itu tak diambil kembali saat pelaku utama telah kembali. Sungguh tak adil harus membuat sequel cerita bersambung sementara kita hanya mengetahui ending yang hanya tayang selama 30 detik.
Cerita nyata yang telah terjadi tak dapat diputar ulang. Hidup manusia bukan sinetron televisi atau sebuah DVD.
Meski ingin kutumpahkan tetesan air di wajahku, sisi realistisku menahannya melalui sebuah bendungan besar nan kokoh. Egoku tak ingin menyerah meski nurani terasa lelah. Lelah akan perubahan yang ingin kutampilkan tanpa perubahan yang ingin kusaksikan. Tak seperti mata uang yang memiliki dua sisi. Apa yang kualami ini hanyalah sebuah cermin tanpa pantulan. Cahaya tanpa matahari, bumi tanpa langit. Menanggung tanggung jawab orang lain sementara dia melenggang di depan mata melepas pekerjaannya yang tidaklah selesai.
Tiada inginku tuk tumpah kan isi jiwaku padanya. Hanya sebatas percakapan biasa dengan kalimat biasa dan situasi yang benar-benar biasa. Tidak ada lagi segala macam bentuk emosi yang ingin kutampilkan meski ia menjulang di pelupuk mataku. Bagiku kau adalah orang asing yang tidak memiliki daya tarik untuk dikenal.

Read More......

Still....

Karakter manusia, bisakah dirubah. Katanya kepribadian hanyalah "topeng" atas prilaku sebagai refleksi penyesuaian diri dengan lingkungan. Berarti kepribadian dapat berubah. Perubahan dapat ke arah baik atau tidak baik. Sementara karekter...seseorang berkata bahwa karakter merupakan sesuatu yang melekat pada diri sehingga sulit berubah. Tapi seiring berjalannya waktu dan munculnya kesadaran maka karakter dapat dikendalikan secara sadar. Hanya saja mata cenderung enggan untuk melihat karakter diri pribadi. Akibatnya karakter yang jelek setia mengirini setiap ayunan kaki meniti hari. Perlu orang lain untuk mengingatkan...?! Jangan terlalu berharap..!!! Tidak selamanya kebiasaan menggantungkan harapan pada orang lain berdampak efektif pada diri pribadi mengingat tadi bahwa kita sulit untuk membuka mata sekedar untuk memahami karakter sendiri. Apakah kriktik atau informasi yang berupa peringatan yang disampaikan orang lain akan kejelekan karakter diri akan dengan mudah kita terima terlebih dengan lapang ada...?! Belum tentu. Siapa tahu karakter tersebut yang merupakan sumber masalah kita. Terkadang kita menuntut perubahan atas seseorang sementara kita tidak bercermin hal apakah yang harus dirubah dalam diri kita. Menjatuhkan tuduhan bahwa seseorang memiliki karakter yang tidak baik tetapi enggan melihat bahwa ternyata karakter kita sendiri perlu dirubah.
Perbedaan karakter seseorang memberi banyak pengaruh dalam kehidupan sosialisasi. Misalnya dalam situasai rekan kerja yang memerlukan adanya kerjasama dan keterbukaan tugas individu, karakter seseorang dapat memberi pengaruh baik dan jelek. Yang perlu digaris merah adalah akibat jelek yang timbul karena adanya karakter tidak baik yang tersimpan pada diri dan teraplikasi dalam kegiatan sehari-hari.
Sepasang rekan kerja yang SEHARUSNYA saling memberi informasi penting terkait pekerjaan tenyata tidak dapat menjalankan tugas dengan baik karena disebabkan perbedaan karakter ini. Pekerja A menuntut dan mengharap perubahan yang terjadi pada pekerja B. Sementara pekerja B merasa bahwa pekerja A yang harus berubah sehingga pekerja B dapat membuat penyesuaian. Dalam perjalanan pekerja B mencoba untuk melakukan penyesuaian dengan karekter pekerja A. Dalam hal ini pekerja B telah melakukan pembentukan "kepribadian". Namun kepribadian hanyalah sebuah "topeng" perilaku yang dapat berubah sesuai dengan ekosistem yang ada. Ternyata setelah beberapa hari menampilkan kepribadian setelah sebelumnya menjalani perang karakter dengan pekerja A, ternyata permasalahan kembali terjadi yang dilakukan oleh pekerja A. Dalam hal ini faktor permasalah yang ditimbulkan oleh pekerja A adalah murni karena memang seperti itulah karakter pekerja A. Sementara pekerja B merasa jengkel dan kecewa atas berulangnya kesalahan yang dilakukan oleh pekerja A tanpa penjelasan. Perasaan jengkel dan kecewa ini membuat pekerja B kembali pada perilaku semula. Artinya kepribadian pekerja B telah lepas karena kepribadian tersebut adalah hasil bentukan atas karakter pekerja A dan pekerja B memunculkan karakter dirinya. Dengan demikian karakter seseorang akan terus ada dalam diri dan akan muncul sewaktu-waktu entah dalam porsi yang utuh atau sebagian.

Catatan:

  1. Ingat..jangan pernah meminta perubahan dalam diri seseorang sebelum menanyakan pada diri sendiri apa yang harus dirubah dalam diri pribadi.
  2. Jangan dulu meminta perubahan pada diri seseorang sebelum 100% yakin telah menjalankan point 1 dan menemukan serta memahami karakter pribadi.
  3. Jangan meminta perubahan pada diri seseorang sebelum melakukan perubahan pada diri sendiri.
  4. Jangan pernah memfokuskan pemikiran akan karakter orang lain tapi fokuslah pada karakter diri yang perlu dan harus segera dikendalikan atau bahkan dirubah.
  5. Lupakan menanyakan kesalahan diri pada orang lain tapi ingatlah kesalahan itu secara sadar dan lakukan tindakan.
  6. Kuasai duniamu sendiri sebelum membuka pintu menuju dunia orang lain.
  7. Bentuklah banyak kepribadian sehingga dapat mengatasi karakter di beberbagai ekosistem.

Read More......