Tak lama lagi seorang teman dekatku akan menempuh fase yang baru dalam hidupnya. Berbagi cerita hidup dengan seseorang hingga ajal menjemput. Hari terakhir kebersamaan kami adalah malam itu karena setelah itu ternyata pintu tersebut terbuka untuknya. Berbahagia sekaligus bersedih. Berbahagia karena ia akan berbahagia dengan kehidupan baru yang akan segera dijalaninya. Bersedih karena kini tak lagi ada waktu untuk kami saling berbagi cerita. Tapi tetap saja harus kupaksakan untuk sepenuhnya berbahagia untuknya karena ia adalah temanku, ia adalah sahabatku, ia adalah saudaraku, ia adalah pelipur dukaku, ia adalah teman suka ku dan ia adalah inspirasiku.
Padanya tak akan kutunjukan bahwa aku bersedih karena aku bersedih bukan untuknya tapi aku bersedih untuk diriku sendiri. Ingin kuhadirkan selalu senyum ceria padanya, kebahagiaan penuh atasnya, pelukan suka baginya.
Temanku, sahabatku, saudaraku selamat menjalani kehidupan yang baru berbahagialah selalu semoga dengan begitu muncul kepercayaan dan keberanian pada diriku untuk seperti dirimu...
Leave me alone
Hari ini begitu sesak. Hingga diputuskan lah semua hal yang memungkinkan terjadinya sebuah koneksi. Begitu lelah dengan semua hal yang membuat syaraf, otot dan pikiran menjadi kaku dan tegang. Hari ini sebuah pengakhiran dimulai. Tak kan lagi ada kontak dalam hal apapun meski sebuah huruf melalui sms. Semua telah dihapus karena perasaan lelah akibat prasangka buruk yang membuat hati menjadi sakit. Semua telah dihapus karena perasaan lelah akibat saling serang dan adu kata-kata yang membuat hati merasa bahwa hanya kebencianlah yang dihadirkan. Meski selama ini mencoba untuk berpikiran positif bahwa bukan benci yang ditawarkan.
Hari ini sebuah foto dan segelintir argumen menjadikan pikiran negatif dan prasangka menyeruak masuk. Hingga akhirnya diputuslah semua koneksi yang mungkin terjadi. Tak ingin lagi menyimpan. Tak ingin lagi terhubung. Tak ingin lagi peduli. Hanya ingin hati menjadi bersih dari segala keterkaitan. Mencoba kembali menjadi diri sendiri yang bebas tanpa harus peduli dengan tatapan-tatapan mata kalian dan prasangka-prasangka kalian yang menyebabkan prasangka. Pikiran positif akan tetap hadir meski negatif yang harus diterima. Tak mudah meminta pengertian bahwa bukan ini tujuan akhir dari sebuah foto. Mungkin benarlah bahwa hanya benci yang diantar hatimu pada kedua tangan. Hanya basa basi yang terlontar dari lisankan. Tak peduli bagaimana hati ini mencoba menampung semuanya.
Inilah akhir dari segalanya. Tak kan terulang semua yang telah terjadi. Karena telah ditutup jalanmu untuk kemari. Telah ditutup pintu untuk setiap ketukan-ketukan jarimu. Telah ditutup telinga untuk setiap panggilan dan sapaanmu. Telah ditutup semua karena sebuah foto dan beberapa komentar yang membuat prasangka negatif. Meski bukan ini akhir yang diharap.
Diposting oleh Auntum In My heart | Permalink | 0 komentar
Label: heart...
Mushafir Menatap Langit Malam
Siang menjelang sore..mushafir mendaratkan kaki kecil nan kurus dilapangan megah penuh sesak. Mencari dan menelisik jiwa-jiwa yang berkenan menjemputnya sekedar memberikan arah kemana ia harus pergi, tempat apa yang harus dituju, rumah mana yang berkenan memberi sedikit ruang untuk melepas lelah dan penat.
Hari berganti hari...tak terasa hari pertama bulan ke sepuluh merupakan sebuah awal yang tak pernah diduga akan dialaminya. Hari pertama di bulan ke sepuluh adalah beberapa hari setelah sang mushafir memulai pencarian ilmu pendidikannya. Hari pertama bulan ke sepuluh adalah awal hari sang mushafir mendapat pengalaman lain dalam hidupnya. Sebuah kejadian, membuatnya tersadar bahwa ternyata selama ini ia terlupa mempersiapkan dirinya akan sebuah kenyataan yang cepat atau lambat akan ia hadapi. Bukan hasil akhir dari peristiwa itu yang ia sesalkan tapi kenyataan bahwa ternyata ia lupa berbekal lah yang menjadi penyesalan. Selama ini ia terlalu larut dalam kenyamanan kesendirian dan kebebasan. Terlupa bahwa ia memerlukan seorang teman dalam hidupnya. Seorang belahan jiwa tempat berbagi suka dan duka. Meski pun ia ingat dan mengajukan sebentuk harap, namun ia terlupa berbekal demi memenuhi harapannya. Terlupa berbekal mengenai cara menghadapinya. Sekali lagi, bukan hasil akhir dari peristiwa yang terjadi di bulan ke sepuluh yang ia sesali, melainkan lalai dalam mempersiapkan bekal dalam menghadapi peristiwa di bulan ke sepuluh itu lah yang ia sesali. Sebuah kesadaran yang seharusnya muncul ketika ia mulai mengajukan sebuah harap akan sebuah keluarga namun sayang ia terlena. Kesendirian dan kemandirian membuatnya lupa. Beruntung ada peristiwa di bulan ke sepuluh, hingga hatinya tersadar dan mulai memenuhi kantong-kantong bekal sebanyak mungkin. Demi masa depan dan harap yang diajukan pada Nya
Begitu banyak pelajaran yang diambilnya dari sebuah perjalanan. Hidup ternyata tidak sesederhana pikirannya dan tidak serumit sangkaannya. Menatap langit malam dengan azzam di hati bahwa saat bekal ku tlah siap kuterima engkau dengan tangan terbuka. Sepenuh hati sepenuh jiwa Lillahi ta'ala.
Diposting oleh Auntum In My heart | Permalink | 0 komentar
Label: heart...
Keajaiban...
Dua bulan yang lalu tepatnya tanggal 14, aku mengambil sebuah keputusan penting dalam hidupku yang memang tidak semua orang beranggapan hal itu penting. Aku memutuskan untuk membeli sebuah sepeda motor. Sepeda motor yang selama ini hanya berani ku naiki di kursi penumpang tanpa berani kukemudikan sendiri. Sepeda motor yang bagiku terlalu berat untuk ku bawa dengan badanku yang kecil dan kurus. Sepeda motor yang kuambil setelah mengorbankan keinginan papaku akan tokonya meski beliu ikhlas merelakannya demi melihat kemudahan yang akan ku jalani meski aku mencoba untuk membuatnya membatalkan keinginan melihatku menaiki sebuah sepeda motor. Tapi akhirnya kuambil juga sepeda motor tersebut setelah melalui berbagai kerumitan yang menguji kesabaran hingga terlintas dalam pikiranku bahwa tahun ini belumlah saatnya aku memiliki sebuah sepeda motor.
Sepeda motor ini kuambil tanpa memikirkan bagaimana kemungkinanku untuk mengendarainya karena terpatri dalam diriku bahwa aku tidak akan pernah mampu mengendarai sebuah sepeda motor yang berat.
Akhirnya tanpa kusadari sepenuhnya tanggal 14 hari itu aku resmi membawa sepeda motor baru yang aku sendiri kebingungan bagaimana mengendarainya agar sampai kerumah dengan selamat. Pertama, temanku bersedia mengantarku sampai ke rumah dengan sepeda motor tersebut. Kemudian sore harinya papaku mengajak ku pergi ke jalan raya agar aku segera lancar mengemudikannya. Sebuah ketidakmampuan yang aku ucapkan pada diriku dan orang-orang yang dulu menanyakan kemampuanku mengendarai sepeda motor ternyata hanya dalam 2 hari aku mampu mengendarainya seorang diri. Papaku dalam 2 hari berusaha agar aku bisa berhasil. Keinginannya membuka pintu keridhaan Allah SWT sehingga hatiku terbuka dan memiliki keberanian untuk melalui jalan-jalan penuh manusia lain dengan motor besinya masing-masing. Masih sering terlintas dalam pikiranku betapa kejadian ini sesuatu yang ajaib yang terjadi dalam hidupku. Mengingat betapa takutnya aku melalui jalan padat menggunakan sepeda motorku...sendiri...sendiri...sendiri...
Setiap jalan yang kulalui dengan kendaraan roda dua ku...tak hentinya syukur kuucap akan kemampuan yang diberikan padaku. Jangan pernah berkata "tidak bisa" baik pada diri sendiri maupun pada orang lain karena tak ada yang tahu kapan sebuah ilmu dikaruniakan pada kita. Selama masih ada keinginan untuk mempelajarinya...maka pasti bisa. Biasakannya mengucapkan "Saya Bisa" maka segala sesuatu pasti mampu dikerjakan. Tanpa melupakan syukur dan sujud.
Diposting oleh Auntum In My heart | Permalink | 0 komentar
Selamat Sampai Tujuan
- Shoum Ramadhan yang sempurna. Bersih hati, badan, pikiran. Tulus penuh pengharapan.
- Sholat lima waktu: harus di awal waktu.
- Sholat sunah: tentu saja lebih banyak dan dilakukan dengan lebih khusyu. Kan pahalanya sama dengan sholat wajib. Tapi yang penting ikhlas mengharap ridho Allah SWT.
- Tilawah qur'an sehari 1 juz dong. Dicicil tiap sebelum sholat atau malam hari saat sholat lail. Tidak lupa memahami artinya. Insya Allah ada yang berbeda di hati kita.
- Dzikir tak pernah putus sepanjang hari.
- Baca buku pengetahuan biar pikiran tetap maju.
- Senyum..senyum..senyum...
- Seleksi acara tv supaya memberi manfaat lebih bagi diri.
- Infaq di kuatkan.
- Empat sehat lima sempurna
- Olah raga teratur
- Tidur cukup
- Ibadah top.
- Senyum..senyum...
"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang terdahulu kamu agar kamu bertaqwa (Al Baqarah 183)
Diposting oleh Auntum In My heart | Permalink | 0 komentar
Marahnya Seorang Pimpinan
"Siapa yang menahan marah, padahal ia dapat memuaskan pelampiasannya, maka kelak pada hari kiamat, Allah akan memanggilnya di depan sekalian makhluk. Kemudian, disuruhnya memilih bidadari kehendaknya." (HR. Abu Dawud - At-Tirmidzi)
Itulah kalimat yang terlontar ketika seorang pimpinan meluapkan emosi negatifnya yaitu rasa marah. Akan lebih buruk lagi apabila luapan emosi tersebut ditampilkan dihadapan orang banyak.
Sebab-sebab "pimpinan ku" marah:
2. marah adalah karakter pimpinanku
Pimpinanku saat marah:
- berteriak dihadapan ku dan orang banyak
- menggunakan tangan/jarinya untuk memukul-mukul meja dan menunjuk-nunjuk wajahku
- bertambah marah apabila aku mengajukan pembelaan diri bertambah marah dan semakin berteriak apabila ada orang lain yang bertanya padanya saat itu meski pertanyaan orang tersebut merupakan hal berbeda
- lupa bahwa aku juga manusia yang memiliki hati dan perasaan.
- sedih karena aku sadar aku telah melakukan kesalahan
- malu karena dimarahi, dimaki dan diteriaki dihadapan orang banyak
- benci karena pimpinanku tidak menghargai ku sebagai seorang manusia yang memiliki hati
- dendam karena aku telah dipermalukan didepan umum
- sakit hati karena dilempari kata-kata kasar oleh pimpinanku
- malas beraktifitas karena aku takut melakukan kesalahan yang membuatku dipermalukan didepan umum
- lari, aku ingin lari dari tempatku bekerja dan mencari tempat kerja lain yang lebih memberi ketenangan.
- aku berdo'a semoga pimpinanku segera digantikan oleh orang lain yang lebih berjiwa pimpinan lahir dan batin yang memahami dan menerapkan citra seorang pemimpin islam
- aku berharap suatu saat pimpinanku akan merasakan bagaimana rasanya dimarahi, dimaki dan diteriaki di depan umum
Sikap yang baik apabila seorang pimpinan menemukan pegawainya melakukan kesalahan:
- Panggilah pegawai tersebut kesebuah ruangan tertutup dimana tidak ada orang lain selain pimpinan dan pegawai yang melakukan kesalahan.
- Berilah senyum saat pegawai tersebut masuk. Hal ini akan memberi sedikit ketenangan bagi si pegawai karena pegawai tersebut pasti merasa bahwa ia telah melakukan kesalahan meskipun seandainya kesalahan tersebut tidak disengaja.
- Tanyakan kabar pegawai tersebut. Dengan demikian ia akan merasa rileks dan lebih menghormati pimpinan
- Jelaskan maksud pimpinan memanggil yaitu dengan melakukan kroscek kebenaran atas kesalahan yang dilakukan oleh pegawai tersebut. Hal ini akan membuat pegawai yang melakukan kesalahan menjadi lebih jujur dan terbuka sehingga informasi yang ingin diketahui pimpinan menjadi lebih jelas
- Jelaskan bahwa pimpinan tidak marah akan kesalahan yang dilakukan pegawai tersebut dan sebutkan akibat yang timbul dari kesalahan yang dilakukan pegawai tersebut.
- Tekankan dengan bahasa yang halus agar pegawai tersebut berjanji untuk tidak mengulangi kesalahannya. Jika memang diperlukan berilah konsekuensi logis atas kesalahan yang telah dilakukan. Tentu saja dengan bahasa yang halus agar pegawai tersebut tidak merasa terpaksa menerima konsekuensi tersebut tapi karena menyadari konsekuensi tersebut pantas ia terima sebagai akibat dari kesalahannya.
- Ucapkan terimakasih dan jabatlah tangan si pegawai diakhir pembicaraan serta tidak lupa tersenyum.
- Para pekerjanya akan merasa betah dan aman bekerja di tempat tersebut. Tidak mudah terjadi pergantian personel.
- Para pekerjanya dapat melihat dengan lebih jelas letak kesalahan yang telah dilakukan dan termotivasi untuk berusaha tidak mengulangi dan memperbaiki kesalahan tersebut.
- Para pekerja tidak mengalami kematian dalam kreatifitas dan berusaha untuk memberikan yang terbaik tanpa pamrih
- Para pekerja memiliki rasa ikhlas dalam melakukan setiap pekerjaan
- Pimpinan dan bawahan memiliki rasa kekeluargaan dan kekompakan disela-sela rasa profesionalisme.
- Tujuan perusahaan mudah dicapai.
- Pimpinan dan bawahan sehat lahir batin karena marah, benci, dendam hanya membawa penyakit.
Memang benar, tetapi tempatkanlah rasa marah tersebut di tempat yang tepat dan cara yang tepat agar memberi hasil yang tepat pula. Luapan rasa marah seorang pimpinan lebih cenderung menimbulkan ketakutan bukan penghormatan.
Perenungan:
Rasulullah S.A.W memberikan contoh kepada kita tentang berlapang dada. Ia tidak panik menghadapi kekasaran seorang
Beliau tetap bersabar menghadapinya dan memberikan sikap yang ramah dan Lemah lembut. Pada saat itulah, Rasulullah S.A.W ingin menunjukkan kepada kita bahawa kesabaran dan berlapang dada itu lebih tinggi nilainya daripada harta benda. Adakalanya, Rasulullah S.A.W juga marah. Namun, marahnya itu tidak melampaui batas kemuliaannya. Itu pun ia lakukan bukan kerana masalah peribadi melainkan kerana untuk menjaga kehormatan agama Allah. Rasulullah S.A.W bersabda, "Memaki-maki orang muslim adalah fasik (dosa),dan memeranginya adalah kufur (keluar dari Islam)." (HR.Bukhari) Sabdanya pula, "Bukanlah seorang mukmin yang suka mencela, pengutuk, kata-katanya keji dan kotor." (HR. Turmudzi).
catatan: aku bukanlah orang yang sempurna, tapi aku berusaha untuk menjadi orang yang lebih baik.
seiring waktu ku jalani hingga nafas ku terhenti
namun aku tak ingin menjadi orang yang baik seorang diri melainkan aku ingin semua orang menjadi baik.
aku berusaha menyadari setiap kesalahan yang telah kulakukan dan aku ingin orang lainpun dapat menjadi orang yang
mampu menyadari kesalahannya sendiri.
betapa indah dunia...betapa banyak senyum tercipta...hilang semua dengki di dada...
terimakasih wahai saudara...yang entah dimana engkau berada...sungguh aku merasa lebih lega...
Read More......
Diposting oleh Auntum In My heart | Permalink | 0 komentar
Shadow in my mind ...
Brukk...!!! aku jatuh. Tiba-tiba aku terjatuh pada jalan yang ku lalui dengan kehati-hatian 100%. Sakit ternyata rasanya...Saking sakitnya, hampir dan ingin rasanya meneteskan refleksi kejadian itu dalam bentuk butiran-butiran bening. Tentu saja saat duniaku dalam keadaan kosong tanpa pendatang.
Mataku melakukan penginderaan sebagaimana fungsi ia diciptakan. Meneliti setiap bagian tubuhku. Mencari bagian-bagian yang terasa sakit akibat jatuh yang kualami. Sedetik..dua detik...satu menit..mataku tidak menemukan sesuatu yang berbeda pada tubuhku. Tak ada memar..tak ada lecet apalagi cairan merah yang keluar dari kulit putih pucatku. Tapi pusat kegiatan tubuhku meneriakan "sakit" diseluruh bagian-bagiannya. Sakit yang membuatku ingin meneteskan air mata. Sakit yang memberikan penyesalan atas jalan yang kupilih untuk dilalui yang ternyata memberi rasa sakit. Tak ada luka...jadi bagian mana yang terasa sakit. Yang diteriakan oleh otak ku.
Sejenak aku duduk dalam diamku. Diam dalam duniaku. Berjalan-jalan di padang rumput anganku nan hijau serta diantara bunga-bunga imajinasiku. Angin yang berhembus menerpa lembut kulitku. Sejuk dan hangat hadir dalam komposisi yang sempurna. Kaki ku berhenti dan menjatuhkan badanku di bawah sebatang pohon besar. Melindungiku dari hangat surya namun tak menghalangiku memandang sejauh-jauhnya. Ku sandarkan kepalaku dengan tangan di kedua sisi tubuhku. Mataku pelan mulai terpejam dengan hati terus menerawang.
Aaaahhhhh....teriakan yang kulontarkan sendiri membuat mataku terbuka. Kusadari betapa nyaring suara yang kuciptakan. Refleks tanganku memegang kepalaku. Meraba ke seluruh bagiannya. Dan dalam sepuluh detik tanganku langsung berpindah kedadaku. Sesak. Aku menemukannya...aku menemukannya...pikirku dan lisanku berlomba mengutarakan kalimat serupa. Ya...aku telah menemukan bagian yang sakit akibat jatuh yang kualami. Aku menemukannya dalam duniaku. Aku menemukannya setelah sesuatu menghantamku saat aku ada dalam duniaku sendiri. Pukulan itu menyakitkan dan menyadarkanku akan rasa sakit sebelumnya. Ternyata pikiran dan hatiku lah yang sakit. Yang membuatku menjeritkan kata "aduh" dengan samar. Dan pukulan yang kuterima saat aku berada dalam duniaku mengembalikanku pada kesadaran dengan emosi yang meluap. Aku menderita sakit...sakit karena aku telah kehilangan sesuatu yang begitu ingin kucapai. Kehilangan yang begitu berarti dalam hidupku. Akhirnya emosiku merambat dimana aku membuat sebab-sebab yang muncul tanpa kuinginkan, diluar rencanaku lah yang menyebabkan aku mengalami hal ini. Mengalami jatuh. Kepalaku semakin sakit dan dadaku begitu sesak ingin menumpahkan segala kekesalan.
Mengapa "sesuatu" itu datang sehingga merusak semua agendaku dan menyebabkan aku terjatuh dalam kehilangan akan sesuatu yang seharusnya bisa ku dapat...?! Selama beberapa menit aku berada dalam kekalutan. Ku abaikan suara dari sudut hatiku yang memintaku untuk tenang dan berpikir. Hingga suara itu begitu keras menegurku dan memaksa memenuhi setiap sel-sel otakku. Aku tersadar bahwa beberapa bulan ini sebuah bayangan menutupi mataku. Bayangan yang membuatku terlupa akan siapa aku dan bagaimana aku dalam menjalani hidup sebelumnya. Bayangan yang membuatku lupa bagaimana aku menempatkan sisi dunia dalam kehidupanku sebelumnya. Bayangan yang menutupi mataku hingga bebera Aku terlupa...
Sekian lama aku bergelut dalam hidup dengan sebuah bayangan yang menutupi mataku. Selama beberapa bulan ini betapa kuat aku berusaha untuk mengejar materi semata. Materi yang harus ku capai demi sebuah tujuan. Dan hal itu membuatku lupa akan diriku. Menjadikanku manusia yang dipenuhi keinginan dunia semata. Dan hari ini hanya dengan sedikit kesalahan kecil yang begitu mudah terjadi dan yang dahulunya merupakan hal biasa kualami ternyata sanggup membuatku begitu sakit. Padahal aku yang sebelumnya apabila mengalami hal ini tak pernah merasa sesakit ini dan bagiku hal itu adalah biasa karena memang seharusnya akan terjadi.
Seketika itu kusadari betapa aku tenggelam dan menenggelamkan diri dalam urusan dunia. Seluruh kepalaku berisi dengan dunia. Hatiku berisi dengan dunia. Tidak ada lagi keseimbangan pada diriku.
Segera kuhapus bayangan yang menutupi mataku dengan siraman air yang menyejukan wajah dan kulitku. Tak hilang dalam sekejap memang. Namun setidaknya aku menyadari bahwa aku harus kembali pada aku yang semula. Aku yang menganggap bahwa materi dunia bukanlah segalanya. Aku yang menganggap bahwa aku harus berusaha dan menyerahkan segala hasilnya pada pemilik keputusan akhir. Aku yang dapat menerima dengan lapang bahwa kehilangan sesuatu adalah hal lumrah dalam hidupku. Karena aku bukan pemilik dunia yang sebenarnya.
Tak ada yang salah pada pengunjung-pengunjung yang hadir pada dunia nyataku. Yang salah adalah bayangan yang tanpa sengaja kuciptakan hingga membuatku lupa akan aku yang sebenarnya...Beruntung aku masih memiliki suara kecil dalam hatiku yang meski kecil namun sanggup membuatku kembali pada nyata yang sebenar-benar nyata.
Diposting oleh Auntum In My heart | Permalink | 0 komentar
Label: My days
