Kekerasan di Dunia Pendidikan
Semakin maraknya kekerasan di dunia pendidikan tidak lagi dapat dipandang sebelah mata. Guru maupun siswa perlu merubah konsep yang selama ini tertanam dalam diri mereka bahwa kekerasan apapun bentuknya bukan lagi hal sepele yang dianggap biasa. Perlu diketahui bahwa akibat dari kekerasan yang dialami seseorang bukan hanya dari segi fisik, tapi juga dari segi emosi, seksual serta pengabaian.
Tipe-tipe kekerasan:
- Fisik: seseorang mengalami kekerasan secara fisik apabila pada terdapat memar-memar pada tubuh yang sulit dijelaskan serta menampilkan perilaku berbeda di sekolah dan dirumah bahkan melakukan tindakan upaya bunuh diri. Kekerasan fisik dapat berupa pemukulan
- Emosi: kekerasan dalam hal emosi ditandai dengan perilaku tertutup, tidak sabaran bahkan upaya bunuh diri dan anak mengalami gangguan komunikasi. Kekerasan dalam hal emosi dapat berupa penghinaan, kata-kata kasar
- Seksual: anak dikategorikan mengalami kekerasan seksual apabila menampilkan tanda-tanda kesulitan berjalan dan duduk, memar, bengkak di area kemaluan, darah pada pakaian dalam dan cenderung menutup diri, menghindari kontak fisik, depresi, memiliki kemajuan dalam hal pengetahuan seksual atau bahkan bersedia melakukan hubungan seksual dengan siapa saja. Kekerasan seksual dapat berupa perkosaan.
- Pengabaian:anak dikategorikan telah mengalami kekerasan berupa pengabaian apabila ia tidak diperhatikan oleh lingkungan sekitarnya terutama orang tuanya. Anak yang mengalami kekerasan ini dapat dilihat apabila anak kelaparan secara terus menerus, tidak memperhatikan kebersihan diri,berat badan dibawah normal, mencuri,sering terlambat dll. Contoh kekerasan berupa pengabaian adalah menyerahkan tanggung jawab orang dewasa pada anak kecil.
Secara umum kekerasan diawali dengan perlakuan kekerasan berupa tipe-tipe di atas yang dapat menyebabkan anak sakit hati, terhina, stress, marah sehingga ia tidak mampu mentolerir hal tersebut dan kehilangan kendali atas dirinya untuk kemudian menampilkan perilaku kekerasan terhadap orang lain seperti menyakiti orang lain sebagaimana ia disakiti atau menyakiti dirinya sendiri.
Dalam dunia pendidikan, guru harus jeli untuk memilih kata-kata serta menampilkan sikap terhadap segala macam bentuk perilaku siswa. Ungkapkan pendapat secara jujur dan dengarkan serta beri perhatian positif pada anak sebagai bentuk penghargaan bagi anak. Hal ini disebabkan pada usia anak-anak merupakan saat bagi anak-anak untuk mencontoh segala macam bentuk aktivitas yang tertangkap oleh indranya. Guru memaki maka anak akan memiliki kosakata yang dapat digunakan untuk melampiaskan rasa marahnya. Selain itu guru juga harus jeli untuk melihat tanda-tanda ataupun perilaku kekerasan yang dilakukan oleh siswa terhadap siswa. Temukan solusi permasalahan yang dialami siswa. Hilangkan pola pikir bahwa sesuatu perilaku siswa yang meyimpang meskipun sepele dianggap hal biasa hanya karena mereka masih anak-anak. Tapi bantu anak untuk menemukan penyelesaian atas hal tersebut. Ingat bantu menyelesaikan dan bukan menyelesaikan.
Permasalahannya adalah akar pokok terjadinya seseorang melakukan kekerasan pada orang lain yang terus berlanjut menjadi rantai yang tak pernah putus..?!
Coba sejenak kita lakukan Flashback ke masa lampau saat Rasulullah SAW masih hidup. Meskipun sepanjang perjalanan hidup Rasulullah SWA selalu mengalami kekerasan dari orang-orang yang membenci beliau, selalu ditanggapi dengan hati yang lembut. Hal ini disebabkan karena kekerasan apabila tidak disikapi dengan hati yang lembut hanya akan menyebabkan pewarisan kekerasan pada orang lain. Pertanyaannya mengapa Rasulullah SAW mampu bersikap lembut terhadap segala bentuk kekerasan yang dialami beliau...?! Jawabnya karena Rasulullah berpegang pada ajaran Islam yang bersumber pada Al-Qur'an. Segala macam aktivitas yang dilakukan, berdasarkan pada Al-Qur'an. Begitu pula ketika Rasulullah memberikan pendidikan kepada umat Islam. Pendidikan yang diberikan adalah pendidikan yang mengambil dasar dari Al-Qur'an. Kurikulum Al-Qur'an. Sehingga peserta didik mendapat pengetahuan bagi jasmani dan rohani mereka. Berbeda dengan pendidikan di Indonesia pada saat ini. Dimana pengetahuan eksak yang harus dikuasai siswa jarang atau bahkan sama sekali tidak bersumber pada Al-Qur'an dan Hadist. Akibatnya siswa hanya menganggap ilmu hanya sekedar ilmu yang harus mereka pelajari tanpa mengetahui apalagi memahami makna ilmu tersebut. Ambil contoh siswa belajar alam semesta. Guru mengajarkan materi alam semesta tanpa menanamkan siapa pencipta alam semesta, bagaimana alam semesta ini tercipta serta apa yang akan terjadi pada alam semesta ini?. Guru hanya menggunakan teori-teori tentang alam semesta menurut pendapat manusia sedangkan penciptaan alam semesta oleh Allah SWT yang Maha Tunggal tidak disebutkan. Akibatnya siswa tidak memiliki rasa syukur ataupun penghambaan pada Allah SWT yang dapat mengarahkannya pada perilaku menyimpang termasuk kekerasan pada orang lain atau dirinya. Apabila sebuah lembaga pendidikan menginginkan siswa-siswinya tidak hanya memiliki kemantapan fisik namun juga kemantapan psikis maka mulailah menentukan kurikulum yang bersumber pada Al-Qur'an dan Hadist dan membuang konsep bahwa pemahaman agama hanya dipelajari pada mata pelajaran agama semata.
Permasalahan selanjutnya yang akan timbul apabila suatu sekolah menetapkan kurikulum independen yang berdasarkan pada Al-Qur'an dan Hadist adalah target diknas. Untuk memahamkan siswa tidak hanya dari kemampuan pengetahuan eksak tetapi juga kemampuan agama dalam kehidupan sehari-hari, diperlukan waktu yang tidak sedikit sementara Diknas memiliki target pembelajaran yang harus dicapai. Pelaku pendidikan serta orang tua wajib mempertimbangkan apakah mereka ingin siswa-siswi/putra-putrinya memiliki kemampuan yang outstanding dari segi pengetahuan eksak tanpa dibarengi penghayatan agama dalam yang sangat baik yang dapat menjadikan mereka sebagai pelaku kekerasan ataukah kemampuan outstanding dari segi pengetahuan eksak plus kematangan psikis agamis dalam setiap kegiatannya dengan catatan melalui waktu yang lebih lama dalam proses studi formalnya namun waktu yang lebih lama pula dampak positifnya.
Selanjutnya, dilema lain yang timbul atas keinginan kembali pada Al-Qur'an dan Hadist demi mencegah kekerasan yang timbul pada kehidupan siswa adalah biaya. Saat ini telah banyak tumbuh sekolah-sekolah yang berbasis agama yang tidak hanya menawarkan kecakapan pengetahuan murni tapi juga kecakapan agama. Permasalahannya adalah untuk mendapatkan paket tersebut diperlukan biaya yang tidak sedikit. Lalu bagaimana nasib sekolah-sekolah negeri.
Untuk itu perlu dilakukan pembicaraan serius mengenai kurikulum oleh pemimpin diknas dengan ulama-ulama pemerhati pendidikan sehingga dapat dibuat kurikulum yang sesuai yang mengutamakan pemahaman agama.

0 komentar:
Posting Komentar