Mushafir Menatap Langit Malam

Mushafir menempuh perjalanan pertama dalam seperempat abad lebih hidupnya. Menembus gumpalan awan putih nan tebal menggapai birunya langit cerah menaiki angin berhembus kencang diselimuti besi-besi tebal bersayap. Entah apa yang memberikan keberanian bagi sang mushafir untuk menempuh perjalanan demikian jauh, meninggalkan semua yang telah dimiliki dan dikenal selama masa remaja menghampiri. Satu hal yang pasti, ilmu..sebuah ilmu pendidikan lah yang menjadi tujuan perjalanan ini. Demi sebuah ilmu yang pastinya akan sangat berarti dalam hidupnya dan tanpa ia sadari perjalanan yang ditempuh pun akan menjadi bagian yang berarti dalam hidupnya.
Siang menjelang sore..mushafir mendaratkan kaki kecil nan kurus dilapangan megah penuh sesak. Mencari dan menelisik jiwa-jiwa yang berkenan menjemputnya sekedar memberikan arah kemana ia harus pergi, tempat apa yang harus dituju, rumah mana yang berkenan memberi sedikit ruang untuk melepas lelah dan penat.
Hari berganti hari...tak terasa hari pertama bulan ke sepuluh merupakan sebuah awal yang tak pernah diduga akan dialaminya. Hari pertama di bulan ke sepuluh adalah beberapa hari setelah sang mushafir memulai pencarian ilmu pendidikannya. Hari pertama bulan ke sepuluh adalah awal hari sang mushafir mendapat pengalaman lain dalam hidupnya. Sebuah kejadian, membuatnya tersadar bahwa ternyata selama ini ia terlupa mempersiapkan dirinya akan sebuah kenyataan yang cepat atau lambat akan ia hadapi. Bukan hasil akhir dari peristiwa itu yang ia sesalkan tapi kenyataan bahwa ternyata ia lupa berbekal lah yang menjadi penyesalan. Selama ini ia terlalu larut dalam kenyamanan kesendirian dan kebebasan. Terlupa bahwa ia memerlukan seorang teman dalam hidupnya. Seorang belahan jiwa tempat berbagi suka dan duka. Meski pun ia ingat dan mengajukan sebentuk harap, namun ia terlupa berbekal demi memenuhi harapannya. Terlupa berbekal mengenai cara menghadapinya. Sekali lagi, bukan hasil akhir dari peristiwa yang terjadi di bulan ke sepuluh yang ia sesali, melainkan lalai dalam mempersiapkan bekal dalam menghadapi peristiwa di bulan ke sepuluh itu lah yang ia sesali. Sebuah kesadaran yang seharusnya muncul ketika ia mulai mengajukan sebuah harap akan sebuah keluarga namun sayang ia terlena. Kesendirian dan kemandirian membuatnya lupa. Beruntung ada peristiwa di bulan ke sepuluh, hingga hatinya tersadar dan mulai memenuhi kantong-kantong bekal sebanyak mungkin. Demi masa depan dan harap yang diajukan pada Nya
Begitu banyak pelajaran yang diambilnya dari sebuah perjalanan. Hidup ternyata tidak sesederhana pikirannya dan tidak serumit sangkaannya. Menatap langit malam dengan azzam di hati bahwa saat bekal ku tlah siap kuterima engkau dengan tangan terbuka. Sepenuh hati sepenuh jiwa Lillahi ta'ala.

0 komentar:

Posting Komentar