Mushafir Menatap Langit Malam

Mushafir menempuh perjalanan pertama dalam seperempat abad lebih hidupnya. Menembus gumpalan awan putih nan tebal menggapai birunya langit cerah menaiki angin berhembus kencang diselimuti besi-besi tebal bersayap. Entah apa yang memberikan keberanian bagi sang mushafir untuk menempuh perjalanan demikian jauh, meninggalkan semua yang telah dimiliki dan dikenal selama masa remaja menghampiri. Satu hal yang pasti, ilmu..sebuah ilmu pendidikan lah yang menjadi tujuan perjalanan ini. Demi sebuah ilmu yang pastinya akan sangat berarti dalam hidupnya dan tanpa ia sadari perjalanan yang ditempuh pun akan menjadi bagian yang berarti dalam hidupnya.
Siang menjelang sore..mushafir mendaratkan kaki kecil nan kurus dilapangan megah penuh sesak. Mencari dan menelisik jiwa-jiwa yang berkenan menjemputnya sekedar memberikan arah kemana ia harus pergi, tempat apa yang harus dituju, rumah mana yang berkenan memberi sedikit ruang untuk melepas lelah dan penat.
Hari berganti hari...tak terasa hari pertama bulan ke sepuluh merupakan sebuah awal yang tak pernah diduga akan dialaminya. Hari pertama di bulan ke sepuluh adalah beberapa hari setelah sang mushafir memulai pencarian ilmu pendidikannya. Hari pertama bulan ke sepuluh adalah awal hari sang mushafir mendapat pengalaman lain dalam hidupnya. Sebuah kejadian, membuatnya tersadar bahwa ternyata selama ini ia terlupa mempersiapkan dirinya akan sebuah kenyataan yang cepat atau lambat akan ia hadapi. Bukan hasil akhir dari peristiwa itu yang ia sesalkan tapi kenyataan bahwa ternyata ia lupa berbekal lah yang menjadi penyesalan. Selama ini ia terlalu larut dalam kenyamanan kesendirian dan kebebasan. Terlupa bahwa ia memerlukan seorang teman dalam hidupnya. Seorang belahan jiwa tempat berbagi suka dan duka. Meski pun ia ingat dan mengajukan sebentuk harap, namun ia terlupa berbekal demi memenuhi harapannya. Terlupa berbekal mengenai cara menghadapinya. Sekali lagi, bukan hasil akhir dari peristiwa yang terjadi di bulan ke sepuluh yang ia sesali, melainkan lalai dalam mempersiapkan bekal dalam menghadapi peristiwa di bulan ke sepuluh itu lah yang ia sesali. Sebuah kesadaran yang seharusnya muncul ketika ia mulai mengajukan sebuah harap akan sebuah keluarga namun sayang ia terlena. Kesendirian dan kemandirian membuatnya lupa. Beruntung ada peristiwa di bulan ke sepuluh, hingga hatinya tersadar dan mulai memenuhi kantong-kantong bekal sebanyak mungkin. Demi masa depan dan harap yang diajukan pada Nya
Begitu banyak pelajaran yang diambilnya dari sebuah perjalanan. Hidup ternyata tidak sesederhana pikirannya dan tidak serumit sangkaannya. Menatap langit malam dengan azzam di hati bahwa saat bekal ku tlah siap kuterima engkau dengan tangan terbuka. Sepenuh hati sepenuh jiwa Lillahi ta'ala.

Read More......

Keajaiban...

Sebuah berita lama yang tidak sengaja terlintas untuk diceritakan. Cerita ini membuatku bertanya dan menyadari bahwa terlarang mengatakan "tidak bisa" pada diri sendiri. Peristiwa ini terjadi sekitar 2 bulan yang lalu.
Dua bulan yang lalu tepatnya tanggal 14, aku mengambil sebuah keputusan penting dalam hidupku yang memang tidak semua orang beranggapan hal itu penting. Aku memutuskan untuk membeli sebuah sepeda motor. Sepeda motor yang selama ini hanya berani ku naiki di kursi penumpang tanpa berani kukemudikan sendiri. Sepeda motor yang bagiku terlalu berat untuk ku bawa dengan badanku yang kecil dan kurus. Sepeda motor yang kuambil setelah mengorbankan keinginan papaku akan tokonya meski beliu ikhlas merelakannya demi melihat kemudahan yang akan ku jalani meski aku mencoba untuk membuatnya membatalkan keinginan melihatku menaiki sebuah sepeda motor. Tapi akhirnya kuambil juga sepeda motor tersebut setelah melalui berbagai kerumitan yang menguji kesabaran hingga terlintas dalam pikiranku bahwa tahun ini belumlah saatnya aku memiliki sebuah sepeda motor.
Sepeda motor ini kuambil tanpa memikirkan bagaimana kemungkinanku untuk mengendarainya karena terpatri dalam diriku bahwa aku tidak akan pernah mampu mengendarai sebuah sepeda motor yang berat.
Akhirnya tanpa kusadari sepenuhnya tanggal 14 hari itu aku resmi membawa sepeda motor baru yang aku sendiri kebingungan bagaimana mengendarainya agar sampai kerumah dengan selamat. Pertama, temanku bersedia mengantarku sampai ke rumah dengan sepeda motor tersebut. Kemudian sore harinya papaku mengajak ku pergi ke jalan raya agar aku segera lancar mengemudikannya. Sebuah ketidakmampuan yang aku ucapkan pada diriku dan orang-orang yang dulu menanyakan kemampuanku mengendarai sepeda motor ternyata hanya dalam 2 hari aku mampu mengendarainya seorang diri. Papaku dalam 2 hari berusaha agar aku bisa berhasil. Keinginannya membuka pintu keridhaan Allah SWT sehingga hatiku terbuka dan memiliki keberanian untuk melalui jalan-jalan penuh manusia lain dengan motor besinya masing-masing. Masih sering terlintas dalam pikiranku betapa kejadian ini sesuatu yang ajaib yang terjadi dalam hidupku. Mengingat betapa takutnya aku melalui jalan padat menggunakan sepeda motorku...sendiri...sendiri...sendiri...
Setiap jalan yang kulalui dengan kendaraan roda dua ku...tak hentinya syukur kuucap akan kemampuan yang diberikan padaku. Jangan pernah berkata "tidak bisa" baik pada diri sendiri maupun pada orang lain karena tak ada yang tahu kapan sebuah ilmu dikaruniakan pada kita. Selama masih ada keinginan untuk mempelajarinya...maka pasti bisa. Biasakannya mengucapkan "Saya Bisa" maka segala sesuatu pasti mampu dikerjakan. Tanpa melupakan syukur dan sujud.

Read More......

Selamat Sampai Tujuan

Ramadhan...ramadhan...euyy... Wah...Ramadhan sudah di depan mata. Semua umat muslim wajib gembira menyambutnya. Tidak hanya bergembira untuk diri sendiri. Tapi juga bergembira menyampaikan berita ramadhan kepada orang lain sehingga orang lainpun turut merasa gembira menyambut ramadhan. Tidak semua umat muslim dapat bertemu bulan ramadhan dalam keadaan sehat. Mungkin ada yang telah dipanggil Allah SWT sebelum bahkan beberapa hari menjelang bulan Ramadhan. Bersyukurlah...bersyukurlah...bersyukurlah...dan bergembiralah...bergembiralah bagi mereka yang telah diberi kesempatan bertemu bulan yang suci ini. Inilah bulan mulia sarana kita lebih meningkatkan amal ibadah dan perbaikan diri sebagai muslim. Semoga amal ibadah yang telah dilakukan akan terus dijalankan dan semakin baik meski Ramadhan telah berlalu hingga hembusan nafas terakhir. Nah...karena kita tinggal menghitung hari..yuk bikin rencana kegiatan bagi yang belum merencanakannya. Apa ya..yang mau kita lakukan di bulan Ramadhan...
  1. Shoum Ramadhan yang sempurna. Bersih hati, badan, pikiran. Tulus penuh pengharapan.
  2. Sholat lima waktu: harus di awal waktu.
  3. Sholat sunah: tentu saja lebih banyak dan dilakukan dengan lebih khusyu. Kan pahalanya sama dengan sholat wajib. Tapi yang penting ikhlas mengharap ridho Allah SWT.
  4. Tilawah qur'an sehari 1 juz dong. Dicicil tiap sebelum sholat atau malam hari saat sholat lail. Tidak lupa memahami artinya. Insya Allah ada yang berbeda di hati kita.
  5. Dzikir tak pernah putus sepanjang hari.
  6. Baca buku pengetahuan biar pikiran tetap maju.
  7. Senyum..senyum..senyum...
  8. Seleksi acara tv supaya memberi manfaat lebih bagi diri.
  9. Infaq di kuatkan.
Wah...banyak target bukan berarti minim semangat ya...?! Yakin bisa...dunia akhirat bermanfaat. Sekarang fisik juga harus disiapkan. Yuk...
  1. Empat sehat lima sempurna
  2. Olah raga teratur
  3. Tidur cukup
  4. Ibadah top.
  5. Senyum..senyum...
Sederhana. Bermanfaat. SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA 1430 H

"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang terdahulu kamu agar kamu bertaqwa (Al Baqarah 183)



Read More......

Marahnya Seorang Pimpinan

"Siapa yang menahan marah, padahal ia dapat memuaskan pelampiasannya, maka kelak pada hari kiamat, Allah akan memanggilnya di depan sekalian makhluk. Kemudian, disuruhnya memilih bidadari kehendaknya." (HR. Abu Dawud - At-Tirmidzi)

"Pemimpinku pemarah, aku tidak betah bekerja di tempat ini..!! Rasanya mau berhenti saja...!!! Ya Allah berilah tempat bekerja yang lebih baik dari di sini...!!!"
Itulah kalimat yang terlontar ketika seorang pimpinan meluapkan emosi negatifnya yaitu rasa marah. Akan lebih buruk lagi apabila luapan emosi tersebut ditampilkan dihadapan orang banyak.
Sebab-sebab "pimpinan ku" marah:

1. aku telah melakukan kesalahan
2. marah adalah karakter pimpinanku

Pimpinanku saat marah:
  1. berteriak dihadapan ku dan orang banyak
  2. menggunakan tangan/jarinya untuk memukul-mukul meja dan menunjuk-nunjuk wajahku
  3. bertambah marah apabila aku mengajukan pembelaan diri bertambah marah dan semakin berteriak apabila ada orang lain yang bertanya padanya saat itu meski pertanyaan orang tersebut merupakan hal berbeda
  4. lupa bahwa aku juga manusia yang memiliki hati dan perasaan.
Perasaanku/sikapku saat dimarahi:
  1. sedih karena aku sadar aku telah melakukan kesalahan
  2. malu karena dimarahi, dimaki dan diteriaki dihadapan orang banyak
  3. benci karena pimpinanku tidak menghargai ku sebagai seorang manusia yang memiliki hati
  4. dendam karena aku telah dipermalukan didepan umum
  5. sakit hati karena dilempari kata-kata kasar oleh pimpinanku
  6. malas beraktifitas karena aku takut melakukan kesalahan yang membuatku dipermalukan didepan umum
  7. lari, aku ingin lari dari tempatku bekerja dan mencari tempat kerja lain yang lebih memberi ketenangan.
  8. aku berdo'a semoga pimpinanku segera digantikan oleh orang lain yang lebih berjiwa pimpinan lahir dan batin yang memahami dan menerapkan citra seorang pemimpin islam
  9. aku berharap suatu saat pimpinanku akan merasakan bagaimana rasanya dimarahi, dimaki dan diteriaki di depan umum
Jadi, tidak ada hal baik apabila seseorang meluapkan amarahnya terhadap seseorang dihadapan orang banyak meskipun orang yang dimarahi, dimaki dan diteriaki telah melakukan kesalahan.

Sikap yang baik apabila seorang pimpinan menemukan pegawainya melakukan kesalahan:
  1. Panggilah pegawai tersebut kesebuah ruangan tertutup dimana tidak ada orang lain selain pimpinan dan pegawai yang melakukan kesalahan.
  2. Berilah senyum saat pegawai tersebut masuk. Hal ini akan memberi sedikit ketenangan bagi si pegawai karena pegawai tersebut pasti merasa bahwa ia telah melakukan kesalahan meskipun seandainya kesalahan tersebut tidak disengaja.
  3. Tanyakan kabar pegawai tersebut. Dengan demikian ia akan merasa rileks dan lebih menghormati pimpinan
  4. Jelaskan maksud pimpinan memanggil yaitu dengan melakukan kroscek kebenaran atas kesalahan yang dilakukan oleh pegawai tersebut. Hal ini akan membuat pegawai yang melakukan kesalahan menjadi lebih jujur dan terbuka sehingga informasi yang ingin diketahui pimpinan menjadi lebih jelas
  5. Jelaskan bahwa pimpinan tidak marah akan kesalahan yang dilakukan pegawai tersebut dan sebutkan akibat yang timbul dari kesalahan yang dilakukan pegawai tersebut.
  6. Tekankan dengan bahasa yang halus agar pegawai tersebut berjanji untuk tidak mengulangi kesalahannya. Jika memang diperlukan berilah konsekuensi logis atas kesalahan yang telah dilakukan. Tentu saja dengan bahasa yang halus agar pegawai tersebut tidak merasa terpaksa menerima konsekuensi tersebut tapi karena menyadari konsekuensi tersebut pantas ia terima sebagai akibat dari kesalahannya.
  7. Ucapkan terimakasih dan jabatlah tangan si pegawai diakhir pembicaraan serta tidak lupa tersenyum.
Apabila semua pimpinan bersikap demikian ketika pegawainya melakukan kesalahan, maka hasilnya adalah :
  1. Para pekerjanya akan merasa betah dan aman bekerja di tempat tersebut. Tidak mudah terjadi pergantian personel.
  2. Para pekerjanya dapat melihat dengan lebih jelas letak kesalahan yang telah dilakukan dan termotivasi untuk berusaha tidak mengulangi dan memperbaiki kesalahan tersebut.
  3. Para pekerja tidak mengalami kematian dalam kreatifitas dan berusaha untuk memberikan yang terbaik tanpa pamrih
  4. Para pekerja memiliki rasa ikhlas dalam melakukan setiap pekerjaan
  5. Pimpinan dan bawahan memiliki rasa kekeluargaan dan kekompakan disela-sela rasa profesionalisme.
  6. Tujuan perusahaan mudah dicapai.
  7. Pimpinan dan bawahan sehat lahir batin karena marah, benci, dendam hanya membawa penyakit.
Beberapa orang berkata "Marahnya seorang pimpinan sewaktu-waktu diperlukan agar pekerjanya lebih menyadari letak kesalahan yang telah dilakukan atau pimpinan yang marah menunjukan wibawa sebagai seorang pemimpin".
Memang benar, tetapi tempatkanlah rasa marah tersebut di tempat yang tepat dan cara yang tepat agar memberi hasil yang tepat pula. Luapan rasa marah seorang pimpinan lebih cenderung menimbulkan ketakutan bukan penghormatan.

Perenungan:
Rasulullah S.A.W memberikan contoh kepada kita tentang berlapang dada. Ia tidak panik menghadapi kekasaran seorang
Beliau tetap bersabar menghadapinya dan memberikan sikap yang ramah dan Lemah lembut. Pada saat itulah, Rasulullah S.A.W ingin menunjukkan kepada kita bahawa kesabaran dan berlapang dada itu lebih tinggi nilainya daripada harta benda. Adakalanya, Rasulullah S.A.W juga marah. Namun, marahnya itu tidak melampaui batas kemuliaannya. Itu pun ia lakukan bukan kerana masalah peribadi melainkan kerana untuk menjaga kehormatan agama Allah. Rasulullah S.A.W bersabda, "Memaki-maki orang muslim adalah fasik (dosa),dan memeranginya adalah kufur (keluar dari Islam)." (HR.Bukhari) Sabdanya pula, "Bukanlah seorang mukmin yang suka mencela, pengutuk, kata-katanya keji dan kotor." (HR. Turmudzi).




catatan: aku bukanlah orang yang sempurna, tapi aku berusaha untuk menjadi orang yang lebih baik.
seiring waktu ku jalani hingga nafas ku terhenti
namun aku tak ingin menjadi orang yang baik seorang diri melainkan aku ingin semua orang menjadi baik.
aku berusaha menyadari setiap kesalahan yang telah kulakukan dan aku ingin orang lainpun dapat menjadi orang yang
mampu menyadari kesalahannya sendiri.
betapa indah dunia...betapa banyak senyum tercipta...hilang semua dengki di dada...
terimakasih wahai saudara...yang entah dimana engkau berada...sungguh aku merasa lebih lega...

Read More......

Shadow in my mind ...

Brukk...!!! aku jatuh. Tiba-tiba aku terjatuh pada jalan yang ku lalui dengan kehati-hatian 100%. Sakit ternyata rasanya...Saking sakitnya, hampir dan ingin rasanya meneteskan refleksi kejadian itu dalam bentuk butiran-butiran bening. Tentu saja saat duniaku dalam keadaan kosong tanpa pendatang.
Mataku melakukan penginderaan sebagaimana fungsi ia diciptakan. Meneliti setiap bagian tubuhku. Mencari bagian-bagian yang terasa sakit akibat jatuh yang kualami. Sedetik..dua detik...satu menit..mataku tidak menemukan sesuatu yang berbeda pada tubuhku. Tak ada memar..tak ada lecet apalagi cairan merah yang keluar dari kulit putih pucatku. Tapi pusat kegiatan tubuhku meneriakan "sakit" diseluruh bagian-bagiannya. Sakit yang membuatku ingin meneteskan air mata. Sakit yang memberikan penyesalan atas jalan yang kupilih untuk dilalui yang ternyata memberi rasa sakit. Tak ada luka...jadi bagian mana yang terasa sakit. Yang diteriakan oleh otak ku.
Sejenak aku duduk dalam diamku. Diam dalam duniaku. Berjalan-jalan di padang rumput anganku nan hijau serta diantara bunga-bunga imajinasiku. Angin yang berhembus menerpa lembut kulitku. Sejuk dan hangat hadir dalam komposisi yang sempurna. Kaki ku berhenti dan menjatuhkan badanku di bawah sebatang pohon besar. Melindungiku dari hangat surya namun tak menghalangiku memandang sejauh-jauhnya. Ku sandarkan kepalaku dengan tangan di kedua sisi tubuhku. Mataku pelan mulai terpejam dengan hati terus menerawang.
Aaaahhhhh....teriakan yang kulontarkan sendiri membuat mataku terbuka. Kusadari betapa nyaring suara yang kuciptakan. Refleks tanganku memegang kepalaku. Meraba ke seluruh bagiannya. Dan dalam sepuluh detik tanganku langsung berpindah kedadaku. Sesak. Aku menemukannya...aku menemukannya...pikirku dan lisanku berlomba mengutarakan kalimat serupa. Ya...aku telah menemukan bagian yang sakit akibat jatuh yang kualami. Aku menemukannya dalam duniaku. Aku menemukannya setelah sesuatu menghantamku saat aku ada dalam duniaku sendiri. Pukulan itu menyakitkan dan menyadarkanku akan rasa sakit sebelumnya. Ternyata pikiran dan hatiku lah yang sakit. Yang membuatku menjeritkan kata "aduh" dengan samar. Dan pukulan yang kuterima saat aku berada dalam duniaku mengembalikanku pada kesadaran dengan emosi yang meluap. Aku menderita sakit...sakit karena aku telah kehilangan sesuatu yang begitu ingin kucapai. Kehilangan yang begitu berarti dalam hidupku. Akhirnya emosiku merambat dimana aku membuat sebab-sebab yang muncul tanpa kuinginkan, diluar rencanaku lah yang menyebabkan aku mengalami hal ini. Mengalami jatuh. Kepalaku semakin sakit dan dadaku begitu sesak ingin menumpahkan segala kekesalan.
Mengapa "sesuatu" itu datang sehingga merusak semua agendaku dan menyebabkan aku terjatuh dalam kehilangan akan sesuatu yang seharusnya bisa ku dapat...?! Selama beberapa menit aku berada dalam kekalutan. Ku abaikan suara dari sudut hatiku yang memintaku untuk tenang dan berpikir. Hingga suara itu begitu keras menegurku dan memaksa memenuhi setiap sel-sel otakku. Aku tersadar bahwa beberapa bulan ini sebuah bayangan menutupi mataku. Bayangan yang membuatku terlupa akan siapa aku dan bagaimana aku dalam menjalani hidup sebelumnya. Bayangan yang membuatku lupa bagaimana aku menempatkan sisi dunia dalam kehidupanku sebelumnya. Bayangan yang menutupi mataku hingga bebera Aku terlupa...
Sekian lama aku bergelut dalam hidup dengan sebuah bayangan yang menutupi mataku. Selama beberapa bulan ini betapa kuat aku berusaha untuk mengejar materi semata. Materi yang harus ku capai demi sebuah tujuan. Dan hal itu membuatku lupa akan diriku. Menjadikanku manusia yang dipenuhi keinginan dunia semata. Dan hari ini hanya dengan sedikit kesalahan kecil yang begitu mudah terjadi dan yang dahulunya merupakan hal biasa kualami ternyata sanggup membuatku begitu sakit. Padahal aku yang sebelumnya apabila mengalami hal ini tak pernah merasa sesakit ini dan bagiku hal itu adalah biasa karena memang seharusnya akan terjadi.
Seketika itu kusadari betapa aku tenggelam dan menenggelamkan diri dalam urusan dunia. Seluruh kepalaku berisi dengan dunia. Hatiku berisi dengan dunia. Tidak ada lagi keseimbangan pada diriku.
Segera kuhapus bayangan yang menutupi mataku dengan siraman air yang menyejukan wajah dan kulitku. Tak hilang dalam sekejap memang. Namun setidaknya aku menyadari bahwa aku harus kembali pada aku yang semula. Aku yang menganggap bahwa materi dunia bukanlah segalanya. Aku yang menganggap bahwa aku harus berusaha dan menyerahkan segala hasilnya pada pemilik keputusan akhir. Aku yang dapat menerima dengan lapang bahwa kehilangan sesuatu adalah hal lumrah dalam hidupku. Karena aku bukan pemilik dunia yang sebenarnya.
Tak ada yang salah pada pengunjung-pengunjung yang hadir pada dunia nyataku. Yang salah adalah bayangan yang tanpa sengaja kuciptakan hingga membuatku lupa akan aku yang sebenarnya...Beruntung aku masih memiliki suara kecil dalam hatiku yang meski kecil namun sanggup membuatku kembali pada nyata yang sebenar-benar nyata.

Read More......

Tanpa Judul

Langit mengeluarkan tangisnya. Menumpahkan beban yang mengiringi perputarannya. Namun tangisnya bisa menjadi kebahagiaan bagi penghuni bumi dan juga kesedihan bagi mereka.
Aku pun ingin seperti langit saat ini. Menumpahkan sesak di dada. Mungkin ia akan sederas hujan saat ini. Pun seandainya hujan ini disertai kilat dan guntur. Akupun akan turut mengeluarkan teriakan kemarahan dan tatapan sebagaimana kilat menyambar saat hujan. Sesak ku melelahkan. Tapi langit melaksanakan tugasnya. Dan bumi pun melaksanakan tugasnya. Langit tidak menanggung tugas bumi sebagai tempat berpijak manusia. Sehingga tangisnya bukanlah tangis karena menyesali tugasnya.
Betapa berat menanggung tugas orang lain yang tanpa pemberitahuan. Betapa berat harus bertanggung jawab atas tugas orang lain tanpa pemberitahuan. Disaat pertanggung jawaban itu harus diberikan, sementara mereka si empunya tugas berada di depan mata dan tak mau tau apa-apa. Mengapa tugas itu tak diambil kembali saat pelaku utama telah kembali. Sungguh tak adil harus membuat sequel cerita bersambung sementara kita hanya mengetahui ending yang hanya tayang selama 30 detik.
Cerita nyata yang telah terjadi tak dapat diputar ulang. Hidup manusia bukan sinetron televisi atau sebuah DVD.
Meski ingin kutumpahkan tetesan air di wajahku, sisi realistisku menahannya melalui sebuah bendungan besar nan kokoh. Egoku tak ingin menyerah meski nurani terasa lelah. Lelah akan perubahan yang ingin kutampilkan tanpa perubahan yang ingin kusaksikan. Tak seperti mata uang yang memiliki dua sisi. Apa yang kualami ini hanyalah sebuah cermin tanpa pantulan. Cahaya tanpa matahari, bumi tanpa langit. Menanggung tanggung jawab orang lain sementara dia melenggang di depan mata melepas pekerjaannya yang tidaklah selesai.
Tiada inginku tuk tumpah kan isi jiwaku padanya. Hanya sebatas percakapan biasa dengan kalimat biasa dan situasi yang benar-benar biasa. Tidak ada lagi segala macam bentuk emosi yang ingin kutampilkan meski ia menjulang di pelupuk mataku. Bagiku kau adalah orang asing yang tidak memiliki daya tarik untuk dikenal.

Read More......

Still....

Karakter manusia, bisakah dirubah. Katanya kepribadian hanyalah "topeng" atas prilaku sebagai refleksi penyesuaian diri dengan lingkungan. Berarti kepribadian dapat berubah. Perubahan dapat ke arah baik atau tidak baik. Sementara karekter...seseorang berkata bahwa karakter merupakan sesuatu yang melekat pada diri sehingga sulit berubah. Tapi seiring berjalannya waktu dan munculnya kesadaran maka karakter dapat dikendalikan secara sadar. Hanya saja mata cenderung enggan untuk melihat karakter diri pribadi. Akibatnya karakter yang jelek setia mengirini setiap ayunan kaki meniti hari. Perlu orang lain untuk mengingatkan...?! Jangan terlalu berharap..!!! Tidak selamanya kebiasaan menggantungkan harapan pada orang lain berdampak efektif pada diri pribadi mengingat tadi bahwa kita sulit untuk membuka mata sekedar untuk memahami karakter sendiri. Apakah kriktik atau informasi yang berupa peringatan yang disampaikan orang lain akan kejelekan karakter diri akan dengan mudah kita terima terlebih dengan lapang ada...?! Belum tentu. Siapa tahu karakter tersebut yang merupakan sumber masalah kita. Terkadang kita menuntut perubahan atas seseorang sementara kita tidak bercermin hal apakah yang harus dirubah dalam diri kita. Menjatuhkan tuduhan bahwa seseorang memiliki karakter yang tidak baik tetapi enggan melihat bahwa ternyata karakter kita sendiri perlu dirubah.
Perbedaan karakter seseorang memberi banyak pengaruh dalam kehidupan sosialisasi. Misalnya dalam situasai rekan kerja yang memerlukan adanya kerjasama dan keterbukaan tugas individu, karakter seseorang dapat memberi pengaruh baik dan jelek. Yang perlu digaris merah adalah akibat jelek yang timbul karena adanya karakter tidak baik yang tersimpan pada diri dan teraplikasi dalam kegiatan sehari-hari.
Sepasang rekan kerja yang SEHARUSNYA saling memberi informasi penting terkait pekerjaan tenyata tidak dapat menjalankan tugas dengan baik karena disebabkan perbedaan karakter ini. Pekerja A menuntut dan mengharap perubahan yang terjadi pada pekerja B. Sementara pekerja B merasa bahwa pekerja A yang harus berubah sehingga pekerja B dapat membuat penyesuaian. Dalam perjalanan pekerja B mencoba untuk melakukan penyesuaian dengan karekter pekerja A. Dalam hal ini pekerja B telah melakukan pembentukan "kepribadian". Namun kepribadian hanyalah sebuah "topeng" perilaku yang dapat berubah sesuai dengan ekosistem yang ada. Ternyata setelah beberapa hari menampilkan kepribadian setelah sebelumnya menjalani perang karakter dengan pekerja A, ternyata permasalahan kembali terjadi yang dilakukan oleh pekerja A. Dalam hal ini faktor permasalah yang ditimbulkan oleh pekerja A adalah murni karena memang seperti itulah karakter pekerja A. Sementara pekerja B merasa jengkel dan kecewa atas berulangnya kesalahan yang dilakukan oleh pekerja A tanpa penjelasan. Perasaan jengkel dan kecewa ini membuat pekerja B kembali pada perilaku semula. Artinya kepribadian pekerja B telah lepas karena kepribadian tersebut adalah hasil bentukan atas karakter pekerja A dan pekerja B memunculkan karakter dirinya. Dengan demikian karakter seseorang akan terus ada dalam diri dan akan muncul sewaktu-waktu entah dalam porsi yang utuh atau sebagian.

Catatan:

  1. Ingat..jangan pernah meminta perubahan dalam diri seseorang sebelum menanyakan pada diri sendiri apa yang harus dirubah dalam diri pribadi.
  2. Jangan dulu meminta perubahan pada diri seseorang sebelum 100% yakin telah menjalankan point 1 dan menemukan serta memahami karakter pribadi.
  3. Jangan meminta perubahan pada diri seseorang sebelum melakukan perubahan pada diri sendiri.
  4. Jangan pernah memfokuskan pemikiran akan karakter orang lain tapi fokuslah pada karakter diri yang perlu dan harus segera dikendalikan atau bahkan dirubah.
  5. Lupakan menanyakan kesalahan diri pada orang lain tapi ingatlah kesalahan itu secara sadar dan lakukan tindakan.
  6. Kuasai duniamu sendiri sebelum membuka pintu menuju dunia orang lain.
  7. Bentuklah banyak kepribadian sehingga dapat mengatasi karakter di beberbagai ekosistem.

Read More......