Lama juga tidak "curhat". Bagiku blog adalah tempat "curhat" entah sedih entah senang. Kebanyakan sih yang sedih.
Setelah sekian lama juga tidak curhat, entah berapa cerita yang ingin diurai di sini. Ok lets start.
Sebulan yang lalu, aku mengetahui kenyataan yang pahit dari seseorang yang sangat berarti dalam hidupku. Sekedar informasi, yang kumaksud dengan seseorang yang berarti adalah salah satu keluargaku. Kenyataan itu membuatku tak lagi mampu berkata-kata padanya. Membisu. Itulah yang kujalani selama sebulan ini. Setelah sebelumnya ia sempat meninggalkanku seminggu penuh tanpa berita. Kami serumah tapi terpisah jauh. Kebahagian yang ingin kami cari berbeda. Ia memilih mencari kebahagian di luar sementara aku menginginkan kebahagian di dalam. Tak ada kata sepakat. Yang tercipta adalah jurang. Buntutnya aku harus merelakan kakiku untuk mendaki (dalam arti sebenarnya) menyusuri jalan-jalan yang biasa kulalui dengan ban. Capek. But I try to survive. Sebulan sudah berlangsung. Belum lagi masalah di tempatku mencari rezeki. Ah...capek hingga aku sempat memutuskan untuk berhenti. Tapi pimpinanku bersedia membantuku untuk mencapai keinginanku. Mereka menitipkan beban yang begitu besar yang aku sendiri ragu untuk dapat menjalaninya. Shock..aku sangat shock. Hingga hari ini belum ada keputusan yang kuterima mengenai pengajuanku.
Masalah lain..aku harus memenuhi keperluan yang mendesak ditengah-tengah masalahku yang sudah menumpuk. Ku coba untuk memenuhinya sebisaku.
Yang berikutnya adalah...BANJIR..beberapa hari yang lalu kota tempatku tinggal kebanjiran. Banjir musiman. Menyebabkan aku tidak mendapat angkot untuk pergi ke tempat kerjaku. Yah..terpakasa nebeng. Ga enak juga nebeng. Di tambah sudah sebulan ini aku harus pergi pagi-pagi buta biar bisa on time. Untung tempat kerjaku menetapkan libur setelah beberapa hari libur. Aku yang menengahi rapat libur tersebut serta menandatangi suratnya. Sayangnya kau lupa menginfokan pada pimpinanku. Tapi bukan masalah besar sih. Yang justru membuatku jengkel adalah kejadian yang baru saja terjadi, buntut dari keputusan tersebut. Salah satu keluarga yang terdaftar sebagai konsumen tempatku bekerja sekaligus mantan ketua bidang tempatku bekerja mempertanyakan alasan meliburkan tersebut. Setelah dijelaskan malah jadinya perang sms. Benar-benar menjengkelkan. Jadi hpnya kumatikan.
Begitulah...tidak ada hal yang istimewa. Biasa-biasa saja karena aku memang manusia biasa-biasa saja. O iya lupa..dalam bulan ini aku juga menghabiskan 4 buah novel, 2 buah komik dan banyak seri kartun. Untuk pekerjaan aku sedang menyusun modul, soal dan analisis soal. Kembali lagi..biasa-biasa saja.
Read More......
Setiap manusia selalu dihadapkan pada pilihan. Entah dua, tiga atau sekian banyak pilihan yang cukup membingungkan untuk diambil. Pilihan terkadang membuat bingung. Bagi sebagian tempat yang mereka pilih untuk kita adalah baik sementara pilihan kita sendiri menurut kita adalah baik. Oke, kita coba gambling mengingat mereka adalah mayoritas dan suara kita minoritas meski segala kelemahan, kekurangan dan ketidaksiapan serta ketidak mampuan yang menimbulkan keraguan telah pula diungkapkan. Berkeras dan berkeraslah karena suara mayoritas dan demi sebuah permintaan pertolongan dari seseorang yang layak dihormati.
Seiring perjalanan, ternyata sedikit sekali kebaikan yang kita lakukan dibanding keburukan yang secara langsung maupun tidak langsung dilakukan pada tempat yang menurut suara mayoritas adalah tempat terbaik untuk kita. Apa langkah selanjutnya..?! komunikasi...?! pun telah dilakukan dan hasilnya tidak memberi perubahan berarti. Begitu rasa telah memuncak dan selagi kesadaran masih terdapat dalam diri, terucaplah keinginan awal yaitu mundur dan mencoba memutar kemudi menuju pilihan kita yang diyakini baik dan ditolak suara mayoritas. Namun sayang, penolakan dari suara mayoritas terus berlangsung dan keadaan membuat diri terpojok sementara kita hanya menginginkan sedikit kebaikan yang mungkin kita ciptakan namun sepanjang waktu dibanding keburukan yang terus berulang. Bermacam ungkapan dari suara mayoritas berdatangan mencoba untuk membelokan jalan yang telah kupatri dan ingin kudapatkan karena mengharap ketenangan lahir dan batinku. Bagiku pilihan ini adalah jalanku untuk menghalangi diri dari hal buruk yang meracuni jiwaku. Sayang, bagi suara mayoritas keinginanku hanyalah sebutir pasir di lautan sementara keinginan suara mayoritas adalah gunung himalaya. Dan gunung himalaya itu dititipkan pada sebutir benih yang baru mencoba untuk tumbuh dan mencoba untuk mempelajari rumput di sekitar, bukan terjalnya jalan menuju puncak gunung.
Tolong jangan matikan aku dengan teriakan mayoritas kalian. I NEED SPACE TO BREATH..!!
Semakin nyaring suara mayoritas meneriakan keinginan mereka, semakin tidak ada ruang untuk bergerak. Suara mayoritas mengurung setiap celah untuk bernafas. Mematikan hasrat hati untuk tumbuh dan berkembang. Hanya kelelahan yang terasa dan layu di tempat ia tumbuh dan berusaha tumbuh. Jawablah kalian para suara mayoritas..kepada jiwa inikah kalian berkeras untuk menitipkan gunung tempat kalian berpijak dan orang-orang disekeliling kalian untuk berpijak.
Read More......
Pada hari Selasa7 April 2009 telah kuungkapkan isi hati ku pada pemimpinku. Hari itu aku menyatakan keinginanku yang sebelumnya telah kunyatakan saat keputusan yang tidak ingin kuterima diungkapkan.Aku ingin mundur dari posisiku yang sekarang. Ketidaknyamanan yang semakin kurasakan sangat menggangguku. Atmosfer team work yang sebelumnya memberi kenyamanan batin meski ragaku remuk redam tidak dapat lagi kurasakan. Target kerja dan pandangan akan sesuatu yang lebih baik yang dulu begitu sering kurasakan, kini tidak lagi terjadi dalam diriku. Tentu saja hal ini disebabkan karena kerjasama yang membuatku dapat lebih kreatif tidak terjadi dalam posisiku sekarang. Aku lelah mencoba membuatnya mengerti cara kerjaku. Hingga akhirnya aku berhenti dan menjalani pekerjaan sebagaimana yang kepala bagianku inginkan. Namun akhirnya aku tak sanggup bertahan. Aku tidak lagi bisa menahan emosiku ataupun menerima cara kerja yang dia lakukan. Aku mundur dan aku memilih untuk mengungkapkan keinginanku untuk mundur pada pimpinanku. "Tolong saya untuk kembali keposisi sebelumnya meskipun posisi itu berarti lebih rendah dari posisi saya sekarang namun posisi itu membuat saya nyaman". Kalimat itu kembali kuungkapkan disertai dengan perasaan yang kumiliki pada suasana kerjaku sekarang. Meski belum jelas sebagai apa nantinya aku dikembalikan, setidaknya aku merasa diterima, didengar, dan dimengerti oleh pimpinan tertinggiku. Beliau tidak menampilkan bahwa aku adalah pegawai dibawahnya. Sungguh berbeda dengan kepala bagianku yang entah mengapa membuatku merasa sebagai pegawai rendah yang bertungas sebagai pembantu bukan sebagai rekan kerja. Aku tidak memerlukan pimpinan. Yang kuperlukan adalah rekan kerja yang dapat membuatku mencari,menemukan dan membuat jalan yang lebih baik dari sebelumnya. Tapi sungguh sayang, setiap kata, gerak dan kegiatan yang kepala bagianku lakukan membuatku merasa sebagai "pembantu" yang hanya diperlukan ketika pimpinan tertinggi memberikan masalah gawat darurat yang dapat membuat kepalanya terpenggal sementara informasi lain sama sekali tidak kudapat. Bagaimana kalian mengharapkan sesuatu yang baik dapat kulakukan apabila informasi tidak diberikan kepadaku?!Bagaimana aku harus mencari informasi itu apabila aku tidak tau permasalahan yang terjadi?!
Maaf saja. Apapun yang terjadi aku memilih mundur dari posisi ini. Lebih baik aku berada di posisi semula tapi aku bisa melakukan banyak hal yang membuatku merasa berarti daripada posisi tinggi yang membuatku dikekang. Sebegitu takutnya kah dia akan hal baik yang dapat kulakukan sehingga menyimpan informasi yang seharusnya aku tahu..?! Luar biasa!!!.
Read More......

Menulis tidak semudah yang kubayangkan. Maksud hati ingin menulis sesuatu yang berarti dan penuh arti dengan bahasa yang penuh makna diri, namun semakin dipikir ternyata susah sekali. Aku tak pandai berpuisi. Apalagi bersastra. Hanya sekedar menumpahkan isi hati yang lebih banyak gundah gulana pun perlu usaha yang keras. Begitu pula dengan kebahagian yang ingin kutuliskan agar menjadi sebuah kenangan saat aku sendiri menatap rembulan. Susah dan susah. Lebih banyak kebekuan dan kebisuan yang menjadi selubung inspirasi. Terlebih berada di ruang kotak yang menghalangi kepalaku untuk terbang dan menemukan hal-hal yang membuatku bahagia. Aneh memang..mungkin bagi sebagian besar manusia yang berpijak di bumi ini..kursi atas merupakan tempat yang memungkinkan mereka untuk menciptakan berbagai keajaiban. Namun bagiku keajaiban, kebahagian dalam hidup lebih menyenangkan ketika hanya beralaskan tanah lapang yang dipenuhi rumput hijau. Membuatku merasa bebas untuk menumbuhkan segala macam jenis bunga dan pepohonan yang memberi makna bagi masing-masing makhluk hidup. Semakin lama berada di singgasana langit membuatku kehilangan udara untuk dihirup, air untuk diminum serta keinginan untuk menanam. Ingin kembali. Ke duniaku yang hanya milikku. Taman impianku. Taman bunga yang ingin kutumbuhkan. Rerumputan yang hijau sejauh mataku memandang. Udara dingin dan tetesan embun yang menyejukan hatiku. Tawa dan canda angin yang selalu menyampaikan berita bahagia di setiap waktuku. Meski lelah raga membangun taman impianku, batinku terasa lebih bahagia. Dibandingkan ruang kotak, singgasana atas yang menjadikan ku seorang zombie yang tak mampu berpikir terlebih mencipta meski raga tiada terasa lelah namun hati kering tanpa tetesan hujan
Read More......

Waktuku tak banyak. Hidupku entah berapa lama. Begitu banyak hal ingin kuperbuat. Terhalang oleh segala peristiwa yang tak yakin dapat kuterima. Begitu mudah sebuah jalan dihadang. Menutup segala kemungkinan yang membayang.
Jika nafasku separuh perjalanan, bersediakah kepala-kepala mengangguk demi sebuah keinginan yang belum kuselesaikan. Mengapa hanya mengapa permohonan akan pengertian yang selalu hinggap sementara ku harus mengalah akan sebuah pengertian yang menyesakan. Mengambil seluruh keinginanku untuk mencipta. Menutup segala jalan kerja pusat sarafku.
Bila kejenuhan merajalela. Kakiku begitu kuat untuk menjauh. Bibir begitu kuat untuk menutup. Telingapun lelah mendengar. Matapun enggan melirik.
Kejenuhan menunggu untuk dimengerti dan dipahami untuk sebuah keinginan sederhana.
Read More......

Ribuan tetes air membasahi tempatku berpijak. Kebekuan yang tercipta menengadahkan kepala akan suatu tanya. Meski ribuan neuron di kepala mencoba untuk membuat koneksi atas tanya yang ada. Hanya sunyi dan lubang tanpa gema yang tercipta.
Menanti jalan yang membawa pada padang ilalang. Sungguh berkali-kali sunyi yang terasa.
Waktu tersia. Raga tanpa jiwa. Hati entah kemana. Meski kaki mengayun. Tiada tanya kemana angin membawa. Hingga menghembus tuk terakhir kalinya.
Akankah mata-mata itu mencari..?!
Akankah suara-suara itu bertanya..?!
Akankah tangan-tangan itu terulur..?!
Akankah mereka hadir..?!
Bersama tak hanya pada padang ilalang.
Bersama tak hanya dibawah ribuan tetes air.
Bersama dalam senyum tanpa akhir.
Read More......
Bread. With chocolate in it. Delicios. But not all part in that bread contain chocolate. There must be part of that bread empty means no chocolate.
When I eat chocolate bread I always eat the empty part first. It's not delicios. Cause only bread without taste. Ending my eat ritual, i eat middle of my bread. Full with chocolate. Sweet. Very sweet.
Now I see. My way for eat my bread, is identic about my life way. Unsweet thing, happen in my life. One by one. The different is I still not get the sweetest life just like when I eat the middle of my bread. Sometime I'm thingking and wish that soon I will have it. The sweetest thing in my life.
Read More......